Kamis, 11 April 2013

Ketika Hujan: Ketika Dongeng Menjadi Awal Mula Kisah Cinta

Cover Novel Ketika Hujan

Judul : Ketika Hujan 
Penulis : Orina Fazrina
ISBN : 978-979-25-4855-6
Tebal 130 halaman + xiv 
Desain cover : Sandy Muliatama
Layout isi : Evi Sri Rezeki 
Editor : Eva Sri Rahayu 
Penerbit : Chibi Publisher 
Tahun terbit : 2013
Harga : Rp. 30.000

Blurb:

Hana hanya ingat malam itu ia merasa sangat marah. Ia memukul-mukul boneka pemberian Otou-san hingga kelelahan dan tertidur. Saat terbangun paginya, ia menyadari ada yang berubah. Ia menghindari papanya. Benci pada hujan dan aroma basahnya. Benci pada suara petir yang kadang-kadang mengiringi kehadirannya. Ada hal lain lagi. Hana tak suka dekat-dekat dengan laki-laki.

Kehidupan terus berjalan. Namun ada sesuatu yang sadar atau tidak akan terus hidup dalam ingatan. Enggan untuk menghilang. Sesuatu itu disebut kenangan.

Menjadi kenangan itu menyakitkan. Namun lebih menyakitkan lagi jika tak dikenang.

Hana tidak ingin merasakan cinta, tidak ingin terluka seperti Okaa-san. Bagi Hana untuk apa mencintai kalau rasa itu tak bisa dipastikan akan bertahta selamanya. Kini kehadiran kembali kedua sahabat masa kecilnya, Dino dan Adrian menggoyahkan perasaannya. Tapi sebelum dia bisa memutuskan untuk membuka hati, Hana harus menemukan kembali ingatan masa lalunya.

Ingatan yang dilupakan itu bagaikan kotak Pandora. Dan seharusnya kotak itu tak pernah dibuka.

Apakah kamu pecinta hujan? Sangat suka membaca novel romansa? Novel Ketika Hujan karya Orina Fazrina cocok buat kamu.

Hujan selalu memiliki pesona dan daya magis tersendiri. Namun hujan begitu dibenci Hana yang memliki alergi rintik air yang turun dari langit. Setiap kali hujan, Hana akan gelisah kemudian muntah-muntah. Sehingga boneka teru-teru bozu selalu mengantung di tasnya. Selain itu, Hana juga benci laki-laki. Delapan tahun, Hana menahankan semuanya.

Apa yang menjadi penyebab Hana memiliki kedua alergi tersebut? Itulah kunci kotak Pandora yang harus dibuka sedikit demi sedikit oleh pembaca novel Ketika Hujan.

Hana yang bersahabat dengan Anggi kemudian dipertemukan dengan Dino dan Adrian teman masa kecilnya. Sayangnya, Hana tidak mengingat mereka. Padahal keduanya menyimpan kenangan indah bersama gadis itu.

Ketika kecil, sebuah dongeng terucap dari mulut Adrian. Alkisah Dewi Hujan yang bahagia menabur bibit hujan pada awan yang dikumpulkan Dewa Awan. Lalu Dewa Petir datang, ingin meramaikan suasana hujan. Namun bagi Dewi Hujan, Dewa Petir adalah pengganggu. Dewa Petir marah. Makanya setiap petir datang, ada suara keras yang terdengar. Itu adalah suara amarah Dewa Petir pada Dewi hujan.

Bagi Dino dan Adrian, Hana adalah Dewi Hujan mereka. Sedangkan Dino adalah Dewa Petir dan Adrian adalah Dewa Awan.

Ada dua konflik yang saling berhubungan dalam novel ini, yaitu konflik keluarga yang terjadi antara Hana, Ibunya, Bapaknya, dan selingkuhan Bapaknya. Konflik kedua tentu saja cinta segitiga antara Hana-Dino-Adrian. Saya tidak akan menjelaskan bagaimana konflik itu terbangun, karena akan menjadi spoiler sekali. Pembaca harus menikmati kejutan demi kejutan yang disajikan.

Tiga dari lima bintang untuk novel Ketika Hujan ini, saya berikan.

Pertama, untuk quotes cantik yang menyentuh, menyertai setiap bab dalam novel. Seperti:

Kehidupan terus berjalan. Namun ada sesuatu yang sadar atau tidak akan terus hidup dalam ingatan. Enggan untuk menghilang. Sesuatu itu disebut kenangan.

Sahabat itu seperti matahari yang tak pernah lelah memberikan cahayanya pada bumi.

Kedua, untuk dongeng tentang Dewi Hujan, Dewa Awan, dan Dewa Petir. Dongeng tersebut selain manis juga sangat pas dengan keseluruhan isi cerita. Bagi saya dongeng inilah pengikat kisah ketiga tokoh utamanya. Melalui dongeng ini, jalinan cinta mereka bergejolak.

Bagaimana Hana mengungkapkan perasaannya melalui pelabelan nama Dewa Awan dan Dewa Petir. Apakah benar yang selama ini dikira bahwa Dewa Petir tak lebih sebagai penganggu? Ataukah petir adalah metafora yang dipakai sebagai perlambang kerusuhan hati akibat cinta? Bagi saya, penulis telah berhasil membuat metafora yang apik.

Ketiga, untuk cerita yang tidak melulu tentang cinta antara sepasang manusia. Tetapi penulis menghadirkan cinta tentang keluarga. Tentang cinta yang membawa seseorang pada penerimaan hakiki yaitu berdamai dengan diri sendiri atau dengan masa lalu.

Melupakan kesalahan bukan pekerjaan mudah tapi memaafkan lebih sulit lagi. Poin inilah yang coba dijewantahkan oleh novel Ketika Hujan tanpa pembaca merasa dikuliahi.

Kover luarnya sesuai dengan isi dari novel ini. Sama-sama kelam. Bagi pembaca yang senang dengan kover berwarna-warni yang yummy, mungkin akan melewatkan buku ini di toko buku. Tapi bagi mereka yang suka buku dengan nuansa gelap tentu akan mendekat.

Saya tidak akan mengomentari tentang EYD dan typo karena saya sendiri masih abai tentang hal tersebut. Dan dari banyaknya novel yang saya baca selalu ada typo. Sedangkan selaku layouter novel Ketika Hujan, saya meminta maaf karena kelalaian saya. Dalam beberapa paragraf, pembaca akan menemukan paragraf yang tidak menjorok. Seharusnya tidak begitu. Untuk kesempatan mendatang, saya akan berusaha lebih baik lagi.

Novel Ketika Hujan tidak cukup membuat saya ingin memberikan bintang lima karena beberapa poin berikut:

Pertama, latar belakang keluarga Hana yang diceritakan bahwa ibunya berasal dari Jepang terasa sangat tempelan. Saya menangkap, latar belakang ini hanya mencoba mengabsahkan keberadaan boneka teru-teru bozu yang menjadi salah satu gimmick dalam novel Ketika Hujan.

Penulis tidak berusaha keras memberikan aksen kental atau membuka khazanah tentang Jepang kepada pembacanya. Bagi saya tidak cukup dengan kehadiran boneka teru-teru bozu dan penyebutan Okaa-san (ibu), Otou-san (bapak), Sobu (nenek), dan Hana-chan saja. Padahal jelas sekali tokoh utamanya sangat dekat dengan ke-Jepang-an itu.

Kedua, penulis kurang menghadirkan kenangan manis masa kecil antara ketiga tokoh sentral. Saya tidak dibawa larut dalam kenangan masa kecil yang sepenggal-sepenggal dan nanggung antara Hana, Dino, dan Adrian itu. Apa yang membuat mereka begitu terikat? Hanya karena sering main hujan bersama? Atau karena mereka tidak punya teman lagi? Ingatan masa kecil itu sulit dilupakan karena ada kesan mendalam atas kejadian. Maka saya hanya berkesimpulan, dongeng saja yang mengikat mereka.

Tidak ada peristiwa yang begitu tajam untuk memantik ingatan Hana, kenapa dia jadi alergi hujan dan laki-laki. Padahal peristiwa ini jika dieksplorasi lebih dalam akan membuat gereget pembacanya. Begitupun dengan adegan dimana Adrian memilih mundur dari hidup Hana.

Mungkin sederhananya, kurang motivasi dalam alurnya. Sehingga terkesan terburu-buru ingin cepat selesai.

Saya juga mendapat kesan, penulis kurang berani dan cenderung memilih zona aman dari pada bermain-main dengan liar sehingga alih-alih menghadirkan karya yang ciamik hanya menjadi karya yang standar.

Hujan seperti juga senja yang banyak dicintai oleh manusia memang sering kali menghadirkan inspirasi. Dan icon teru-teru bozu yang tidak bisa lepas dari hujan, sudah sangat banyak dipakai, tapi bolehlah pembaca mencicipi rasa lain dari icon tersebut dalam novel Ketika Hujan. Siapa tahu, dongeng Dewi Hujan juga bisa menjadi awal kisah cinta kamu?

Sekali lagi bagi para pembaca, selamat menikmati hujan sambil membaca novel Ketika Hujan hingga larut dan hanyut.

20 komentar:

  1. Belum punya bukunya mba :D
    tp klo soal hujan, pastinya selalu romantis ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Novelnya udah beredar di toko buku, Melly :)

      Hapus
  2. Evi sama eva ini kembar atau cemana dek? ternyata dirimu editor tho?
    aku mau donk dipinjemin bukunya :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak Jul, iya saya sama Eva itu kembar.
      Saya bukan editor, Mba. Tapi desainer hehehe
      Sini main ke Bandung...

      Hapus
    2. desainer baju atau desainer grafis nih kaka? hehee..
      sekarang jadi sering review buku nih..

      Hapus
    3. Yup desainer grafis, Dian :)

      Hapus
  3. Ulasannya keren lho, mba... :)

    BalasHapus
  4. aku suka hujan.. :D
    eh ini ceritanya ttg remaja kah mba?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ini tentang remaja.

      Udah ada di toko buku juga :)

      Hapus
  5. Lagi-lagi, salut deh dengan review Evie. Tajam dan keren. :)
    btw, dirimu designer grafis? Keren euy!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mba Alaika. Tapi saya masih harus banyak belajar bagaimana me-review buku dengan benar ;p

      Iya Mba Alaika, saya desainer grafis. Tapi juga masih belajar :D

      Hapus
  6. Balasan
    1. Ini masih jauh dari lengkap Mba Diana ^_^

      Hapus
  7. novel yang ini kemarin dibedah di group. Hehe, nambah penasaran :D

    BalasHapus
  8. Baca ini sambil hujan deras di luar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok. Perbaduan antara novel dan hujan. Jangan lupa kopinya :D

      Hapus
  9. lagi2 hujan memang bisa menginspirasi kisah dari ribuan bahkan jutaan angle ya mbak,
    nanti coba hunting bukunya ah, :)

    BalasHapus
  10. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    BalasHapus